Selasa, 10 April 2012

pengorbanan

"ka, boleh ga ade minta sesuatu..?" tanya Salma kepada kakanya Farhan yang sedang duduk termenung berdua melihat keindahan alam di atas gunung Cikuray
"apa de?" tanya kakanya singkat.
"ade pengen ketemu ibu ka, kaka mau kan mempertemukan ibu sama ade?", permintaan adiknya itu membuat Farhan mengingat lagi kejadian waktu ibunya meninggalkan dirinya.
***
"Bu,, ibuuu, ibu dimana?" bangun tidur Farhan kecil mencari ibunya yang baru 2 minggu melahirkan adiknya Salma, "ibu dimana?" Farhan terus mencari-cari ibunya.
"Kenapa, nak?" tiba-tiba ayah Farhan keluar dari kamarnya
"ibu mana, yah?" tanya Farhan dengan muka merah padam, Farhan kecil memang manja, ia tidak bisa sedikitpun jauh dari ibunya, kemanapun ibunya pergi Farhan ikut. Ayahnya yang bingung apa yang harus ia katakan pada Farhan kecil hanya bisa mengusap ubun-ubun kepala Farhan, dan mendekapnya.
***
malam pertama Farhan setelah ibunya tadi shubuh meninggalkan Ayahnya, Salma dan dirinya. entah tadi shubuh entah semalem ibunya meninggalkan keluarganya. Dari tadi bangun tidur Farhan hanya melamun didepan rumah berharap ibunya datang, Salma nangispun tak ia dengarkan, Farhan tidak cuci muka, shalat, ataupun mandi, Farhan terlalu asyik dengan lamunannya.

 “lho nak, ko masi diluar? Nunggu ayah pulang ya? ayo masuk, ayah udah nyampe nih!” Ajak ayah Farhan ketika pulang kerja. Ayahnya hanya pekerja bangunan di kampung sebelah, pekerja bangunan yang tidak tetap, ketika tidak ada tawaran bekerja ayahnya hanya kuli tani yang mengurus sawah tetangganya. Farhan mengikuti ayahnya masuk ke rumah dengan hati masih berharap ibunya datang waktu itu.
                “Uda mandi nak?” Tanya ayahnya. Farhan hanya menggelengkan kepala dan langsung masuk kamar. Dengan penuh kesabaran ayahnya mengajak Farhan mandi dan sholat berjama’ah, setelah sholat ia membawa Salma yang ia titipkan dirumah orang tuanya selama ia bekerja.
                Aktifitas malam tanpa ibu membuat Farhan tidk bergairah dan terus-terusan menangis, ayahnya dengan sabar menghadapi Farhan dan Salma yang ditinggalkan ibu merka. Setelah mengurusi Salma dan mempersiapkan yang dibutuhkannya, ia bergegas tidur, ketika mau masuk kamar ia lihat Farhan sedang diluar sendiri menatap kekosongan langit. Ayahnya langsung menghampiri Farhan.
                “masuk yu nak, angin malam ga baik buat kesehatan!” ajak ayahnya.
                “yah, ibu kemana sih, ko uda malam gini belum juga pulang?”
                “Jadi dari tadi kamu nunggu ibu pulang?”. Farhan hanya menganggukan kepala. “Sayang coba dengarkan ayah!” pinta ayahnya untuk mencoba menjelaskan. Farhan menatap ayahnya dengan serius, “saying, ibu pergi itu bukan untuk meninggalkan kamu, ibu pergi mau bekerja memperbaiki ekonomi keluarga kita, harusnya kamu mendo’akan ibu agar selamat dan selalu sehat, bukannya terus nangis, karna tangisan mu itu akan membuat ibu gundah, masa jagoan ayah nangis, jagoan ayah harus kuat, harus sukses, biar ibu cepat pulang?” jelas ayahnya dengan wajah meyakinka dan berusaha membesarkan hati Farhan, “Farhan, kamu punya adik perempuan yang harus kamu jaga, kamu kasi contoh yang baik buat Salma, ibu nitip pesan sama ayah agar kamu bisa selalu menjaga Salma selama ibu tidak pulang”, lanjutnya. Kata-kata ayahnya itu mebuat Farhan berjanji demi ibunya untuk terus menjaga Salama, janji yang ia terus jaga sampai sekarang.
                “kapan ibu pulang yah? Tanya Farhan.
                “secepatnya, pasti secepatnya ibu akan pulang,” jawab ayahnya meyakinkan.”sekarang kamu tdur, besok harus sekolah” sruh ayahnya,  Farhan masuk rumah dengan besar hati, karna ibu akan secepatnya pulang. Diluar ayahnya menatap Farhan dengan mata berkaca-kaca, karna yang sebernarnya terjadi tidaklah sama dengan apa yang ia bicarakan kepada Farhan.
                Sebelum ibunya pergi meninggalkan mereka,  diantara ayah dan ibunya  terjadi pertengakaran hebat, ibunya tidak bisa menerima kondisi keluarganya yang serba kekurangan, ekonomi keluarga yang tidak membaik, kndisi itu yang membuat ibunya tega meninggalkan Farhan dan Salma. Ditambah kelahiran Salma yang ia anggap membawa kesengsaraan, ibunya tidak meyakini bahwa anak itu sebagai anugrah, ia hanya tau bahwa anakitu hanya membawa kesusahan, sehingga Salma lahir ia langsung pergi meninggalkan keluarganya.
***
                1, 2, 3 hari, bulan, tahun, Farhan dan Salma menjalani hari-hari tanpa seorang ibu, Ayahnya dengan sabar mendidik Farhan dan Salma yang mulai dewasa. 20 tahun ibunya meninggalkan kelurga itu, Farhan dewasa sudah mengerti kenapa ibunya pergi, wanita yang melahirkannya tidak bisa menerima keadaan ekonomi keluarganya yang kekurangan. Ayahnya  yang hanya tukang bangunan dan buruh tani, telah mengerjakan tugas ayah dengan sukses, ia telah bertanggung jawab atas keluarganya dan telah mendidik anak-anaknya sampai mereka sukses. Dari tangan keriputnya ia lahirkan seorang Dosen Fisika di universitas ternama di kota besar dan seorang mahasiswi Kedokteran di Fakultas Kedokteran terbaik, seorang ayah yang menjadi single parent yang hidupnya ia korbankan untuk anak-anaknya, ayah yang berjuang demi keluarganya telah sukses di universitas kehidupannya, Ayah yang sungguh luar biasa.
***
                “kaka ikh, mau bantuin aku nggk?” Tanya Salma yang membuat Farhan sadar dari lamunannya.
                “hah? Ada apa de?” Tanya Farhan kebingungan.
                “ikh kaka pasti ngelamun? Ngelamunin apa seah”
                “ngelamunin, kapan ya kaka married?” jawabnya WeTeDe, “emang ade maw nanya apa?”
                “”nggk akh g jadi, pulang yu ka, uda siang, takut kesorean”
                “eukkh kamu, yu” Farhan bangkit dari duduknya sambil mengucek2 ubun-ubun kepala adiknya tersayang. Mereka pun pulang dari gunung, hiking. Mereka sangat menyukai hiking, setiap liburan mereka sempatkan untuk mendaki gunung, mentadaburi alam untuk lebih bersyukur.
***
                20 tahun tanpa kehadiran sosok ibu sangat menyiksa bagi Farhan dan Salma, mereka terus-terusan mencari ibu yang melahirkannya. Kehidupan yang lebih baik telah mereka dapatkan dari jerih payah ayahnya dan kesungguhan farhan dan Salma, sampai suau ketika ketika Farhan dan Salma pulang dari Bandung ia dapatkan seorang wanita paruh baya di dalam rumahnya sedang mengobrol dengan ayahnya. Mereka memang selalu bersama kemanapun dan dimanapun, dimana ada Farhan disitu pula ada Salma, Kasih sayang seorang kakak kepada adiknya untuk terus menjaga dan melindunginya.
                “Assalamu’alaikum” Sapa Farhan dan Salma ketika memasuki sebuah rumah sederhana tapi unik.
                “Wa’alaikum salam, e ko pulang ga bilang dulu?” jawab ayahnya
                “heheheh, kan kejutan” jawab Salma. “e ada tamu, siapa yah?”lanjut salma. Farhan hanya tertegun melihat wanita paruh baya yang ada dihadapannya. “ibu..?” Tanya Farhan ragu. Wanita itu hanya melihat Farhan dan Salma yang ada dihadapannya, sesekali air mata itu mengalir di pipinya yang keriput. Farhan langsung memeluknya, pelukannya disambut hangat oleh ibunya itu, sama-sama menitikan air mata.
                “ini ibu ka?” Tanya Salma polos. Farhan melepaskan pelukannya, dan mengenalkan sama adiknya bahwa orang yang ia peluk tadi ialah wanita yang mereka cari selama ini, wanita yang telah melahirkannya. Tanpa dikomando Salma langsung memeluk erat wanita itu, yang ia akui sebagai ibunya. “ibu jangan pergi lagi ya!” ucap Salma disela-sela isak tangisnya.
                “Kamu cantik nak, ibu bangga punya anak seperti kalian, pinter-pinter juga sholeh” ucap ibunya yang diiringi senyum  dibibirnya.
                “ibu kemana aja? Ibu jangan pergi lagi ya” pinta Salma untuk yang ke-dua kalinya.
                “ibu selalu ada menemani kaliyan, maapkan ibu nak, ibu punya tanggung jawab yang lebih penting, jadi sekrang juga ibu harus pergi lagi.”
                “emang ibu mau kemana? Salma ikut ya!”
                “nggk bisa sayang, disana ibu tinggal dengan suami dan 3 orang anak yang masih kecil-kecil” ucap ibunya yang membuat Farhan, Salma dan ayahnya kaget.
                “Jadi kamu sudah nikah lagi?” Tanya ayah
                “iya, maapkan aku mas” jawab ibunya tanpa memandang ayah. Seperti di sambar petir ketika mendengar itu, harapan untuk kembali kepada wanita yang telah memberikannya 2 orang anak telah sirna, sebenarnya ia tidak ingin kembali dengan wanita yang telah meninggalkannya dalam keterpurukan bersama kedua orang anak yang masi kecil-kecil, tetapi demi kebaikan anak-anaknya akan ia lakukan.
***
                Pertemuan dengan ibunya membuat Farhan dan salma senang, tetapi berita ibunya yang meninggalkan keluarganya membuat salma terpukul dan selalu mngurung diri dikamar, membuat Salma mengalami depresi ketika mendapatkan bahwa pertemuan itu adalah pertemuan pertama sekaligus yang terakhir baginya, karna ibunya lebih memilih suaminya yang sekarang dan tinggal di Kalimantan mengikuti suami barunya yang bekerja sabagai pengusahan pertambangan.