"ka, boleh ga
ade minta sesuatu..?" tanya Salma kepada kakanya Farhan yang sedang
duduk termenung berdua melihat keindahan alam di atas gunung Cikuray
"apa de?" tanya kakanya singkat.
"ade
pengen ketemu ibu ka, kaka mau kan mempertemukan ibu sama ade?",
permintaan adiknya itu membuat Farhan mengingat lagi kejadian waktu
ibunya meninggalkan dirinya.
***
"Bu,,
ibuuu, ibu dimana?" bangun tidur Farhan kecil mencari ibunya yang baru 2
minggu melahirkan adiknya Salma, "ibu dimana?" Farhan terus
mencari-cari ibunya.
"Kenapa, nak?" tiba-tiba ayah Farhan keluar dari kamarnya
"ibu
mana, yah?" tanya Farhan dengan muka merah padam, Farhan kecil memang
manja, ia tidak bisa sedikitpun jauh dari ibunya, kemanapun ibunya pergi
Farhan ikut. Ayahnya yang bingung apa yang harus ia katakan pada Farhan
kecil hanya bisa mengusap ubun-ubun kepala Farhan, dan mendekapnya.
***
malam pertama Farhan setelah ibunya tadi shubuh meninggalkan Ayahnya, Salma dan dirinya. entah tadi shubuh entah semalem ibunya meninggalkan keluarganya. Dari tadi bangun tidur Farhan hanya melamun didepan rumah berharap ibunya datang, Salma nangispun tak ia dengarkan, Farhan tidak cuci muka, shalat, ataupun mandi, Farhan terlalu asyik dengan lamunannya.
***
malam pertama Farhan setelah ibunya tadi shubuh meninggalkan Ayahnya, Salma dan dirinya. entah tadi shubuh entah semalem ibunya meninggalkan keluarganya. Dari tadi bangun tidur Farhan hanya melamun didepan rumah berharap ibunya datang, Salma nangispun tak ia dengarkan, Farhan tidak cuci muka, shalat, ataupun mandi, Farhan terlalu asyik dengan lamunannya.
“lho nak, ko masi diluar? Nunggu ayah pulang
ya? ayo masuk, ayah udah nyampe nih!” Ajak ayah Farhan ketika pulang kerja.
Ayahnya hanya pekerja bangunan di kampung sebelah, pekerja bangunan yang tidak
tetap, ketika tidak ada tawaran bekerja ayahnya hanya kuli tani yang mengurus
sawah tetangganya. Farhan mengikuti ayahnya masuk ke rumah dengan hati masih
berharap ibunya datang waktu itu.
“Uda mandi nak?” Tanya ayahnya.
Farhan hanya menggelengkan kepala dan langsung masuk kamar. Dengan penuh
kesabaran ayahnya mengajak Farhan mandi dan sholat berjama’ah, setelah sholat
ia membawa Salma yang ia titipkan dirumah orang tuanya selama ia bekerja.
Aktifitas
malam tanpa ibu membuat Farhan tidk bergairah dan terus-terusan menangis,
ayahnya dengan sabar menghadapi Farhan dan Salma yang ditinggalkan ibu merka.
Setelah mengurusi Salma dan mempersiapkan yang dibutuhkannya, ia bergegas
tidur, ketika mau masuk kamar ia lihat Farhan sedang diluar sendiri menatap
kekosongan langit. Ayahnya langsung menghampiri Farhan.
“masuk
yu nak, angin malam ga baik buat kesehatan!” ajak ayahnya.
“yah,
ibu kemana sih, ko uda malam gini belum juga pulang?”
“Jadi
dari tadi kamu nunggu ibu pulang?”. Farhan hanya menganggukan kepala. “Sayang
coba dengarkan ayah!” pinta ayahnya untuk mencoba menjelaskan. Farhan menatap
ayahnya dengan serius, “saying, ibu pergi itu bukan untuk meninggalkan kamu,
ibu pergi mau bekerja memperbaiki ekonomi keluarga kita, harusnya kamu mendo’akan
ibu agar selamat dan selalu sehat, bukannya terus nangis, karna tangisan mu itu
akan membuat ibu gundah, masa jagoan ayah nangis, jagoan ayah harus kuat, harus
sukses, biar ibu cepat pulang?” jelas ayahnya dengan wajah meyakinka dan
berusaha membesarkan hati Farhan, “Farhan, kamu punya adik perempuan yang harus
kamu jaga, kamu kasi contoh yang baik buat Salma, ibu nitip pesan sama ayah
agar kamu bisa selalu menjaga Salma selama ibu tidak pulang”, lanjutnya.
Kata-kata ayahnya itu mebuat Farhan berjanji demi ibunya untuk terus menjaga
Salama, janji yang ia terus jaga sampai sekarang.
“kapan
ibu pulang yah? Tanya Farhan.
“secepatnya,
pasti secepatnya ibu akan pulang,” jawab ayahnya meyakinkan.”sekarang kamu
tdur, besok harus sekolah” sruh ayahnya,
Farhan masuk rumah dengan besar hati, karna ibu akan secepatnya pulang.
Diluar ayahnya menatap Farhan dengan mata berkaca-kaca, karna yang sebernarnya
terjadi tidaklah sama dengan apa yang ia bicarakan kepada Farhan.
Sebelum
ibunya pergi meninggalkan mereka,
diantara ayah dan ibunya terjadi
pertengakaran hebat, ibunya tidak bisa menerima kondisi keluarganya yang serba
kekurangan, ekonomi keluarga yang tidak membaik, kndisi itu yang membuat ibunya
tega meninggalkan Farhan dan Salma. Ditambah kelahiran Salma yang ia anggap
membawa kesengsaraan, ibunya tidak meyakini bahwa anak itu sebagai anugrah, ia
hanya tau bahwa anakitu hanya membawa kesusahan, sehingga Salma lahir ia
langsung pergi meninggalkan keluarganya.
***
1,
2, 3 hari, bulan, tahun, Farhan dan Salma menjalani hari-hari tanpa seorang
ibu, Ayahnya dengan sabar mendidik Farhan dan Salma yang mulai dewasa. 20 tahun
ibunya meninggalkan kelurga itu, Farhan dewasa sudah mengerti kenapa ibunya
pergi, wanita yang melahirkannya tidak bisa menerima keadaan ekonomi
keluarganya yang kekurangan. Ayahnya
yang hanya tukang bangunan dan buruh tani, telah mengerjakan tugas ayah
dengan sukses, ia telah bertanggung jawab atas keluarganya dan telah mendidik anak-anaknya
sampai mereka sukses. Dari tangan keriputnya ia lahirkan seorang Dosen Fisika
di universitas ternama di kota besar dan seorang mahasiswi Kedokteran di
Fakultas Kedokteran terbaik, seorang ayah yang menjadi single parent yang hidupnya ia korbankan untuk anak-anaknya, ayah
yang berjuang demi keluarganya telah sukses di universitas kehidupannya, Ayah
yang sungguh luar biasa.
***
“kaka
ikh, mau bantuin aku nggk?” Tanya Salma yang membuat Farhan sadar dari
lamunannya.
“hah?
Ada apa de?” Tanya Farhan kebingungan.
“ikh
kaka pasti ngelamun? Ngelamunin apa seah”
“ngelamunin,
kapan ya kaka married?” jawabnya
WeTeDe, “emang ade maw nanya apa?”
“”nggk
akh g jadi, pulang yu ka, uda siang, takut kesorean”
“eukkh
kamu, yu” Farhan bangkit dari duduknya sambil mengucek2 ubun-ubun kepala
adiknya tersayang. Mereka pun pulang dari gunung, hiking. Mereka sangat menyukai hiking,
setiap liburan mereka sempatkan untuk mendaki gunung, mentadaburi alam untuk
lebih bersyukur.
***
20
tahun tanpa kehadiran sosok ibu sangat menyiksa bagi Farhan dan Salma, mereka
terus-terusan mencari ibu yang melahirkannya. Kehidupan yang lebih baik telah
mereka dapatkan dari jerih payah ayahnya dan kesungguhan farhan dan Salma,
sampai suau ketika ketika Farhan dan Salma pulang dari Bandung ia dapatkan
seorang wanita paruh baya di dalam rumahnya sedang mengobrol dengan ayahnya.
Mereka memang selalu bersama kemanapun dan dimanapun, dimana ada Farhan disitu
pula ada Salma, Kasih sayang seorang kakak kepada adiknya untuk terus menjaga
dan melindunginya.
“Assalamu’alaikum”
Sapa Farhan dan Salma ketika memasuki sebuah rumah sederhana tapi unik.
“Wa’alaikum
salam, e ko pulang ga bilang dulu?” jawab ayahnya
“heheheh,
kan kejutan” jawab Salma. “e ada tamu, siapa yah?”lanjut salma. Farhan hanya
tertegun melihat wanita paruh baya yang ada dihadapannya. “ibu..?” Tanya Farhan
ragu. Wanita itu hanya melihat Farhan dan Salma yang ada dihadapannya, sesekali
air mata itu mengalir di pipinya yang keriput. Farhan langsung memeluknya,
pelukannya disambut hangat oleh ibunya itu, sama-sama menitikan air mata.
“ini
ibu ka?” Tanya Salma polos. Farhan melepaskan pelukannya, dan mengenalkan sama
adiknya bahwa orang yang ia peluk tadi ialah wanita yang mereka cari selama
ini, wanita yang telah melahirkannya. Tanpa dikomando Salma langsung memeluk
erat wanita itu, yang ia akui sebagai ibunya. “ibu jangan pergi lagi ya!” ucap
Salma disela-sela isak tangisnya.
“Kamu
cantik nak, ibu bangga punya anak seperti kalian, pinter-pinter juga sholeh”
ucap ibunya yang diiringi senyum
dibibirnya.
“ibu
kemana aja? Ibu jangan pergi lagi ya” pinta Salma untuk yang ke-dua kalinya.
“ibu
selalu ada menemani kaliyan, maapkan ibu nak, ibu punya tanggung jawab yang
lebih penting, jadi sekrang juga ibu harus pergi lagi.”
“emang
ibu mau kemana? Salma ikut ya!”
“nggk
bisa sayang, disana ibu tinggal dengan suami dan 3 orang anak yang masih
kecil-kecil” ucap ibunya yang membuat Farhan, Salma dan ayahnya kaget.
“Jadi
kamu sudah nikah lagi?” Tanya ayah
“iya,
maapkan aku mas” jawab ibunya tanpa memandang ayah. Seperti di sambar petir
ketika mendengar itu, harapan untuk kembali kepada wanita yang telah
memberikannya 2 orang anak telah sirna, sebenarnya ia tidak ingin kembali
dengan wanita yang telah meninggalkannya dalam keterpurukan bersama kedua orang
anak yang masi kecil-kecil, tetapi demi kebaikan anak-anaknya akan ia lakukan.
***
Pertemuan
dengan ibunya membuat Farhan dan salma senang, tetapi berita ibunya yang
meninggalkan keluarganya membuat salma terpukul dan selalu mngurung diri
dikamar, membuat Salma mengalami depresi ketika mendapatkan bahwa pertemuan itu
adalah pertemuan pertama sekaligus yang terakhir baginya, karna ibunya lebih
memilih suaminya yang sekarang dan tinggal di Kalimantan mengikuti suami
barunya yang bekerja sabagai pengusahan pertambangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar